JUMAT, 02 JULI 2010 | 19:01 WITA | 4558 Hits
Share |

Terus Sosialisasikan Takakura

CINTA KEBERSIHAN. Fasilitator kelurahan dan warga berpose sejenak usai kegiatan bersih-bersih dan penataan lorong, Rabu, 30 Juni. (FOTO NURHADI/FAJAR)
Tidak semua sampah harus dibuang. Beberapa jenis sampah justru bisa diolah kembali dengan berbagai jenis barang berharga dan aneka kegunaan. Sampah organik misalnya bisa diolah menjadi kompos. Sayang, belum banyak warga yang mengetahui caranya.

Inilah yang coba disosialisasikan oleh kader-kader lingkungan Rukun Warga (RW) I, Kelurahan Ballaparang Kecamatan Rappocini. Kini, beberapa kader lingkungan Makassar Green and Clean (MGC) 2010 mulai menerapkan pengolahan sampah basah menjadi pupuk kompos dengan menggunakan keranjang takakura. Sampah-sampah organik dikumpul dalam wadah ini sehingga bisa dimanfaatkan untuk tanaman.

Hasna, salah seorang kader lingkungan RW I, mengatakan, sosialisasi pengelolaan sampah sedang dilakukan. Sebagai tahap awal, warga diajarkan cara memilah sampah, antara sampah basah dan sampah kering. "Saya kadang keluar masuk lorong untuk mengurusi sampah warga," katanya, Rabu, 30 Juni.

Walau belum banyak, tetapi penerapan konsep komposter dengan keranjang takakura setidaknya bisa mengatasi persoalan sampah non organik untuk dijadikan pupuk bagi tanaman warga. Apalagi tanaman bunga warga, di beberapa titik masih terlihat belum subur.

Saat ini memang belum maksimal. Tetapi setidaknya untuk jangka panjang, hal tersebut bisa menjadi investasi lingkungan yang cukup berharga. Kader-kader lingkungan Ballaparang berharap suatu saat warga sudah mampu mereduksi dan mengolah sampah yang selama ini jadi sumber masalah dalam suatu permukiman.

Rosmini, kader lingkungan RW I lainnya, juga mengakui jika konsep pengelolaan sampah berbasis takakura sedang disosialisasikan kepada warga. Masalah utama yang ditemui untuk penerapannya secara massif karena masih banyak warga yang belum mengetahui cara membuat dan memfungsikannya.

"Tapi kita sudah memiliki beberapa keranjang takakura di rumah-rumah warga. Sisa mau ditambah," ujar Rosmini.

Khusus untuk kebersihan, wilayah ini sudah relatif maju. Demikian pula dengan penghijauan, walau di beberapa jalan lorong penanaman bunga-bunga masih jarang, tetapi sudah mampu mengubah kondisi wilayah jika dibandingkan sebelum masuk MGC 2010.

Seperti terlihat di Jalan Pelita Raya Lorong III. Sudah ada pot-pot gantung di tembok lorong, meski masih jarang. Di sisi lorong bahkan belum ada jejeran pot bunga seperti lorong lainnya. "Sengaja memang kita tidak taruh pot karena jalan sempit sementara mobil lalu-lalang," jelas Rosmini.

Sementara itu di Jalan Pelita Raya Lorong II, pintu gerbang lorong juga terbuat dari ban mobil bekas yang telah dicat dan ditanami dengan bunga besar, seperti Kembang Keladi Batik. Dinding tembok lorong walau belum dicat, tetapi sudah relatif hijau karena adanya pot-pot gantung yang ditumbuhi bunga-bunga yang sifatnya menjalar.

Di Jalan Ballaparang I, warga mengandalkan barang-barang bekas untuk dijadikan pot bunga. Seperti kaleng dan ember cat bekas serta botol air minuman plastik bekas. Hanya saja air got terlihat menggenang. Tembok lorong juga belum ada papan bicara yang berfungsi sebagai imbauan melestarikan lingkungan.(zuk)

KOMENTAR BERITA "Terus Sosialisasikan Takakura"


Redaksi: redaksi@fajar.co.id
Informasi pemasangan iklan
Hubungi Mustafa Kufung di mus@fajar.co.id
Telepon 0411-441441 (ext.1437).